Tanah Kita Tanah Surga
![]() |
| Hijau Negeriku/Adi Wiratmo |
Negeri kita negeri agraris. Padi menghampar hijau, tanah berundak, petani meniti langkahnya di pematang sawah mencari rejeki. Dari sanalah, anak bangsa tumbuh menjadi penyejuk kemerdekaan. Mereka bisa sekolah, terdidik dan bangkit melawan kemiskinan.
Ketika polusi memenjarakan bumi dengan rumah kacanya, Indonesia yang hijau menjawabnya. Ada dari kita mungkin mengingkari janji merawat bumi, tapi percayalah, masih ada pula yang mau menebus hutang itu.
Para penyayang lingkungan tidak tinggal diam menghadapi ekstrimnya perubahan iklim. Mereka bahu membahu menghijaukan bumi: menanam mangrove di pesisir laut, menanam bambu di bantaran sungai atau menanam akasia di kaki gunung.
| Eksotisme Dieng/Respati |
Catatan: Tulisan pendek ini untuk merespon salah satu foto terbaik "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia" berjudul Hijau Negeriku.
Waisak, Borobudur dan Keajaiban
![]() |
| Buddha Tetap Tersenyum/Hartatik |
Aku bukan penganut agama Buddha. Tapi aku jatuh cinta kepada ajarannya, juga Candi Borobudur, yang sampai sekarang adalah tetap keajaiban.
Malam itu, 25 Mei 2013, Magelang barangkali kota yang paling ceria. Orang berduyun-duyun datang padanya, dari muasal berbeda, warna kulit tak sama, dan agama yang tak tunggal.
Ini Indonesia kita, budaya bukan monopoli satu pihak saja. Dan Borobudur telah menjadikan dirinya sebagai tonggak kemanusiaan: memancarkan mulia.
Hujan ternyata bukan halangan bagi kita merayakan Waisak. Doa-doa menggema, api abadi di atas panggung tetap menyala. Sementara Buddha selalu duduk tenang dan tersenyum.
"Karena cuaca tidak baik, kami tidak bisa menyelenggarakan acara pelepasan lampion," kata seorang Buddhis muda melalui pengeras suara. Ia terbata-bata. Ia tahu, momen indah itu tak terwujud.
Namun, ribuan orang bisa tenang. Tak ada kegaduhan yang berarti. Ritual Waisak berlangsung damai.Malam pun tetap bisa memberikan sapaan hangat kepada setiap yang datang, meski kelam masih saja menggelayut di awan.
Catatan: Tulisan pendek ini untuk merespon foto terbaik di "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia" berjudul Pesona Waisak.
![]() |
| Pesona Waisak/Satria Marsudi |
Ingin di Pelukmu
Aku ingin di pelukmu malam ini, sayang: bicara tentang hal-hal apa saja, tentang mimpi-mimpi kita yang sederhana.
Kemarin aku hanyalah seonggok tubuh. Kau datang memberi nafas. Aku tak takut apa pun asalkan di sampingmu.
Kalau kau dapati aku marah, tersenyumlah. Aku butuh belai dan candamu yang renyah itu.
Sekadar Bercericau
Akhir-akhir ini ada bawaan emosi. Mungkin karena hujan tak kunjung turun, panas dan membakar. Akhir-akhir ini pun kita kerap bertengkar. Cuma soal sepele.
Barangkali karena aku gusar, ingin kamu manja, ingin kamu perhatikan Tapi aku tahu, kamu sama sepertiku, ingin dimanja ingin diperhatikan.
Sudahlah. Ini pesoalan pengungkapan saja kok, soal bawaan sebel saja. Maka dari itu aku menulis ini, membantu belajar berpikir positif :)
Ini memang bukan tulisan serius. Sekadar curhat. Atau boleh dibilang Cericau.
Pokoknya Kangen
Aku kangen kamu
Cuma kangen.
Tidak tahu alasannya apa
Yang jelas kangen
Aku nyaman di sisimu
Aku tenang menatapmu
Aku bahagia mendengar tawamu
Aku.... Aku kamu.
Aku ingin ke kotamu
Aku ingin pergi denganmu
Aku ingin apa saja asal sama kamu
Aku ingin.........
Begitulah, cinta telah mengajarkan aku mengasah rasa.. Aku beruntung. :)
Jalur-jalur Menuju Puncakmu
Analogi Mawar
Pernah kita menanam pohon mawar di halaman rumah
Dulu kurus kering dan tak berdaun; lagipula batangnya keriput, durinya pun lunak seperti karet
mawar kita kini tumbuh subur.
Daunnya lebat menyejukkan mata. Apalagi bunganya yang mengelopak indah mirip tawamu. Batang itu pun kokoh ditopang gerai serabut.
Kita menyentuh bersama-sama sambil tersenyum sangat manja. Kita tahu, daun dan batang mawar kini telah gerigi dan berduri.
Sayangku, semoga kita selalu memeliharanya meski hujan tak turun lagi.
Salahkah itu Rindu?
Dear rindu,
Aku mencintainya, di depannya aku menjadi diriku sendiri. Seperti air mu yang membawa semua pesanku. Dia pun begitu, membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya. Bahkan untuk sekadar bilang rindu huh....ataupun butuh.
Banyak yang ga ngerti kalau terluka dan saling menyalahkan. Karena itu, aku takut bicara tentang hati maka ku tuliskan saja, lalu ku simpan dan mugkin ku kirimkan ke....''entah ke mana''.
Sebatas Rindu
Melukis Rupa Seni
Lupa Jati Diri, Sibuk Citra Diri
Menghadirkan Pasar Tradisional di Kampus
Jalan Sunyi
Rerumputan enggan menyapa, sesekali ular mencoba membisa, dan burung-burung terbang ketakutan.











