Cericau @nengtatix & @respatiaffandi

Cericau @nengtatix & @respatiaffandi


Sudah sejak lama kami ingin memiliki rumah ‘maya’ selain di Twitter dan Facebook. Paling tidak, kami lebih leluasa coret-coret dan narsis di sini. Kami yang sama-sama hobi menulis--bukan saja karena jurnalis--tentu akan bebas bermandi kata-kata.  Juga untuk menampung hasil jepretan kami, para penggila fotografi. :)

Tanah Kita Tanah Surga

Hijau Negeriku/Adi Wiratmo
Hijau negeriku. Negeriku hijau. Tak berlebihan bila Koes Plus memujinya lewat sebuah lagu. “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman..” Inilah Potret Mahakarya Indonesia.

Negeri kita negeri agraris. Padi menghampar hijau, tanah berundak, petani meniti langkahnya di pematang sawah mencari rejeki.  Dari sanalah, anak bangsa tumbuh menjadi penyejuk kemerdekaan. Mereka bisa sekolah, terdidik dan bangkit melawan kemiskinan.

Ketika polusi  memenjarakan bumi dengan rumah kacanya, Indonesia yang hijau menjawabnya.  Ada dari kita mungkin mengingkari janji merawat bumi, tapi percayalah, masih ada pula yang  mau menebus hutang itu.

Para penyayang lingkungan tidak tinggal diam menghadapi ekstrimnya perubahan iklim. Mereka bahu membahu menghijaukan bumi: menanam mangrove di pesisir laut,  menanam bambu di bantaran sungai atau menanam akasia di kaki gunung.
Eksotisme Dieng/Respati
Maka sesungguhnya hidup telah mengajarkan gotong royong. Batas-batas negara tak lagi menjadi penghalang ketika bumi telah merintih panas.Siapa pun, di mana pun, kapan pun, mesti turun tangan menghijaukan lingkungannya. Dan semoga negeri ini masih tetap hijau.

Catatan: Tulisan pendek ini untuk merespon salah satu foto terbaik "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia" berjudul Hijau Negeriku.


Waisak, Borobudur dan Keajaiban

Buddha Tetap Tersenyum/Hartatik
Waisak tahun ini sungguh mengharukan: kita bermandi hujan di bawah Borobudur sambil berdoa, berdoa dan berdoa. Namo Buddhaya..Inilah Potret Mahakarya Indonesia.

Aku bukan penganut agama Buddha. Tapi aku jatuh cinta kepada ajarannya, juga Candi Borobudur, yang sampai sekarang adalah tetap keajaiban.

Malam itu, 25 Mei 2013, Magelang barangkali kota yang paling ceria. Orang berduyun-duyun datang padanya, dari muasal berbeda, warna kulit tak sama, dan agama yang tak tunggal.

Ini Indonesia kita, budaya bukan monopoli satu pihak saja. Dan Borobudur telah menjadikan dirinya sebagai tonggak kemanusiaan: memancarkan mulia.

Hujan ternyata bukan halangan bagi kita merayakan Waisak. Doa-doa menggema, api abadi di atas panggung tetap menyala. Sementara Buddha selalu duduk tenang dan tersenyum.

"Karena cuaca tidak baik, kami tidak bisa menyelenggarakan acara pelepasan lampion," kata seorang Buddhis muda melalui pengeras suara. Ia terbata-bata. Ia tahu, momen indah itu tak terwujud.

Namun, ribuan orang bisa tenang. Tak ada kegaduhan yang berarti. Ritual Waisak berlangsung damai.Malam pun tetap bisa memberikan sapaan hangat kepada setiap yang datang, meski kelam masih saja menggelayut di awan.

Catatan: Tulisan pendek ini untuk merespon foto terbaik di "Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia" berjudul Pesona Waisak.

Pesona Waisak/Satria Marsudi

Ingin di Pelukmu

Aku ingin di pelukmu malam ini, sayang: bicara tentang hal-hal apa saja, tentang mimpi-mimpi kita yang sederhana.

Kemarin aku hanyalah seonggok tubuh. Kau datang memberi nafas. Aku tak takut apa pun asalkan di sampingmu.

Kalau kau dapati aku marah, tersenyumlah. Aku butuh belai dan candamu yang renyah itu.

Sekadar Bercericau

Akhir-akhir ini ada bawaan emosi. Mungkin karena hujan tak kunjung turun, panas dan membakar. Akhir-akhir ini pun kita kerap bertengkar. Cuma soal sepele.

Barangkali karena aku gusar, ingin kamu manja, ingin kamu perhatikan Tapi aku tahu, kamu sama sepertiku, ingin dimanja ingin diperhatikan.

Sudahlah. Ini pesoalan pengungkapan saja kok, soal bawaan sebel saja. Maka dari itu aku menulis ini, membantu belajar berpikir positif :)

Ini memang bukan tulisan serius. Sekadar curhat. Atau boleh dibilang Cericau.

Pokoknya Kangen

Aku kangen kamu
Cuma kangen.
Tidak tahu alasannya apa
Yang jelas kangen

Aku nyaman di sisimu
Aku tenang menatapmu
Aku bahagia mendengar tawamu
Aku.... Aku kamu.

Aku ingin ke kotamu
Aku ingin pergi denganmu
Aku ingin apa saja asal sama kamu
Aku ingin.........

Begitulah, cinta telah mengajarkan aku mengasah rasa.. Aku beruntung. :)

Jalur-jalur Menuju Puncakmu


Aku senang sekali bisa pulang ke kampung halaman, Pemalang. Aku bertemu keluarga dan teman-teman lama. Namun, paling bahagia adalah bisa melepas rindu dengan kekasihku, Tatik. Ia datang ke Pemalang, kemudian mengajakku ke Semarang. Hari berikutnya, kami ke Wonosobo. Dua malam di Wonosobo, kami serasa bulan madu. Dan gunung-gunung itu telah memanjakan kami dengan cara sangat sederhana: dingin.

Analogi Mawar

Pernah kita menanam pohon mawar di halaman rumah
Dulu kurus kering dan tak berdaun; lagipula batangnya keriput, durinya pun lunak seperti karet

mawar kita kini tumbuh subur.
Daunnya lebat menyejukkan mata. Apalagi bunganya yang mengelopak indah mirip tawamu. Batang itu pun kokoh ditopang gerai serabut.

Kita menyentuh bersama-sama sambil tersenyum sangat manja. Kita tahu, daun dan batang mawar kini telah gerigi dan berduri.
Sayangku, semoga kita selalu memeliharanya meski hujan tak turun lagi.

Lukisan Senja

Kau

Cb/Hartatik

Cb/Hartatik

Solo Batik Carnival 2012

Duta Wisata

Cb/Hartatik

Kendal Culture Heritage Carnival

Legit Senyuman Sang Penari

Cb/Hartatik

Salahkah itu Rindu?

Dear rindu,
Aku mencintainya, di depannya aku menjadi diriku sendiri. Seperti air mu yang membawa semua pesanku. Dia pun begitu, membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya. Bahkan untuk sekadar bilang rindu huh....ataupun butuh.

Banyak yang ga ngerti kalau terluka dan saling menyalahkan. Karena itu, aku takut bicara tentang hati maka ku tuliskan saja, lalu ku simpan dan mugkin ku kirimkan ke....''entah ke mana''.

Sebatas Rindu


Aku menulis ini dalam rangka....(hmm.. kayak pidato presiden?)

Tidak dalam rangka apa-apa kok. Hanya ingin ngobrol dengan diri sendiri. Toh, kalau pun dibaca orang lain, secara tidak langsung aku berkomunikasi dengannya, kan? Begitulah, gaya bicara orang lagi ngambek. Maklum ya..

Sudah dua hari ini Jelek tidak memberi kabar. SMS tidak dibalas, telpon apalagi. Aku tidak tahu, mungkin ia sibuk. Mungkin juga ia sedang menyembunyikan marah. Ini sebenarnya yang aku cemaskan kalau sudah diam-diaman: banyak praduga. Banyak pertanyaan di pikiran yang, biasanya, sebagian besar salah sangka.

Aku di sini dan kau di sana dengan rindumu yang sederhana. Itu status si Jelek di Twitter. Ya, rindu memang bahasa alam paling manja. Rengekannya menggema di antara jarak dan waktu. Menyengat di kuping. Pedas di mata. Itulah keunikan rindu. Ia bukan sesuatu istimewa bagi dua insan manusia yang berada di dua tempat berbeda, tapi rindu selalu diperlakukan dengan istimewa: cinta. Dan tahukah? Aku termasuk orang di dalamnya.

 Jelek, diam terlalu lama tidak baik—nanti ayam tetangga pada mati lho...

Melukis Rupa Seni

Kaki tak beralas itu pelan-pelan menapaki jalan aspal, mengikuti putaran roda gerobak yang ditarik sepeda motor tua. Tetes demi tetes cat minyak jatuh dari selembar kanvas yang menempel di belakangnya, dan sepasang tangan kurus tanpa kuas begitu piawai bermain warna. Ratusan karya telah lahir dari berjalan kaki sambil melukis sepanjang Yogyakarta-Jakarta, dua di antaranya  masuk  Istana Negara.

Ki Joko Wasis (52) menceritakan perjalanan empat tahun silam itu saat mampir di Saung Sastra dekat Kampus Unisma Kota Bekasi. Segelas kopi hitam sudah tandas, tapi rokok kretek di jemari seolah tak pernah putus. Di hadapannya, tergeletak Buku ‘Jalan Raya Pos, Jalan Daendels’ karya sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Ki  Wasis, begitu ia akrab dipanggil, menyusupkan tangan ke dalam tas jinjing kecil dan mengeluarkan sebuah kaca pembesar, kemudian mendekatkannya ke mata. Ia pun mulai meraba huruf dengan jari telunjuk.

Lupa Jati Diri, Sibuk Citra Diri

DISKUSI FILM: Ruang-Rabu PMLP Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata menggelar diskusi setelah pemutaran film indie ''Yang Patah'', Selasa (19/6) di Theater Thomas Aquinas lantai 3. Film ketiga besutan Enggar Adibroto dari Komunitas Teh Sendja ini didedikasikan untuk anak-anak cacat ganda. (SM/Hartatik)

Menghadirkan Pasar Tradisional di Kampus

Dalam sebuah pigura persegi empat terpampang sosok nenek tua sedang menyapu sisa-sisa beras di Pasar Induk Cipinang, Jakarta Timur. Tubuhnya telah bungkuk dan dipenuhi julur kulit yang mengeriput. “Banyaknya beras yang jatuh dari karung memaksa Elis (67) untuk menyapunya. Namun ia melakukan itu semua demi menghidupi diri dan keluarganya di Serang, Banten,” tulis sang fotografer di bawah foto.

Jalan Sunyi

Begitu banyak tokoh dalam hidup ini: seperti sandiwara drama di atas panggung.
Kelak mereka akan berubah peran dan watak.
Kebahagiaan manusia,  akan menjadi sumber kedengkian bagi sesamanya, sayang.
Dan keterpurukan sangat mudah mengundang gelegak tawa, sorak sorai dan tepuk tangan.

Melangkah di jalan sunyi sungguh tidak mengenakkan.
Rerumputan enggan menyapa, sesekali ular mencoba membisa, dan burung-burung terbang ketakutan.
Mari, manisku, genggam telapak tangan ini dan kita jalan beriringan..

Suatu Malam di TIM

Merdeka Itu Semangat Multikultural

-Pemutaran Perdana Film ”Soegija”

DIALOG FILM SOEGIJA: Sutradara Film Soegija Garin Nugroho bersama Romo Isworohadi (kiri), Produser Film Romo Murti Hadi Wijayanto (kedua kiri), Bagian Operasional Film (kedua kanan) Seno dan Pimpinan Keuskupan Agung Semarang Romo Yohannes Pudjo Samarta (kanan) menjadi narasumber dalam dialog Film Soegija di E-Plaza, Senin (21/5). Kegiatan itu dilanjutkan pemutaran perdana film Soegija dalam moment peringatan hari Kebangkitan Nasional. (suaramerdeka.com/Hartatik)
APA  artinya menjadi bangsa merdeka jika tidak bisa mendidik diri sendiri? Nukilan dialog dari film Soegija ini sungguh menggelitik. Betapa tidak, ungkapan itu muncul di saat bangsa ini sudah merdeka selama 67 tahun.

Jejak ''Soegija''

Cb/Hartatik