Cericau @nengtatix & @respatiaffandi

Cericau @nengtatix & @respatiaffandi

Jalur-jalur Menuju Puncakmu


Aku senang sekali bisa pulang ke kampung halaman, Pemalang. Aku bertemu keluarga dan teman-teman lama. Namun, paling bahagia adalah bisa melepas rindu dengan kekasihku, Tatik. Ia datang ke Pemalang, kemudian mengajakku ke Semarang. Hari berikutnya, kami ke Wonosobo. Dua malam di Wonosobo, kami serasa bulan madu. Dan gunung-gunung itu telah memanjakan kami dengan cara sangat sederhana: dingin.

Salahkah itu Rindu?

Dear rindu,
Aku mencintainya, di depannya aku menjadi diriku sendiri. Seperti air mu yang membawa semua pesanku. Dia pun begitu, membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya. Bahkan untuk sekadar bilang rindu huh....ataupun butuh.

Banyak yang ga ngerti kalau terluka dan saling menyalahkan. Karena itu, aku takut bicara tentang hati maka ku tuliskan saja, lalu ku simpan dan mugkin ku kirimkan ke....''entah ke mana''.

Sebatas Rindu


Aku menulis ini dalam rangka....(hmm.. kayak pidato presiden?)

Tidak dalam rangka apa-apa kok. Hanya ingin ngobrol dengan diri sendiri. Toh, kalau pun dibaca orang lain, secara tidak langsung aku berkomunikasi dengannya, kan? Begitulah, gaya bicara orang lagi ngambek. Maklum ya..

Sudah dua hari ini Jelek tidak memberi kabar. SMS tidak dibalas, telpon apalagi. Aku tidak tahu, mungkin ia sibuk. Mungkin juga ia sedang menyembunyikan marah. Ini sebenarnya yang aku cemaskan kalau sudah diam-diaman: banyak praduga. Banyak pertanyaan di pikiran yang, biasanya, sebagian besar salah sangka.

Aku di sini dan kau di sana dengan rindumu yang sederhana. Itu status si Jelek di Twitter. Ya, rindu memang bahasa alam paling manja. Rengekannya menggema di antara jarak dan waktu. Menyengat di kuping. Pedas di mata. Itulah keunikan rindu. Ia bukan sesuatu istimewa bagi dua insan manusia yang berada di dua tempat berbeda, tapi rindu selalu diperlakukan dengan istimewa: cinta. Dan tahukah? Aku termasuk orang di dalamnya.

 Jelek, diam terlalu lama tidak baik—nanti ayam tetangga pada mati lho...

Ketika ''Soekarno-Inggit'' Bertaut


Ke Bekasi besok Sabtu! Entah apa yang terlintas dalam benak pikirku saat itu. Yang ku tahu Minggu besok hari libur nasional, dan itu sama saja koran tidak terbit. Bagi pekerja  media sepertiku, moment seperti itu sangatlah jarang.

Semarang, Aku dan Kamu

Cerita ini kumulai dari Semarang. Mestinya aku menulis catatan ini di sana pula sambil menikmati kotamu di ketinggian hotel yang telah kamu pesankan untukku. Sebelum tidur malam, aku sempat melihat dari balik kaca yang tak bisa terbuka: rumah-rumah penduduk terlihat warna-warni seperti taburan permen dan menyala bak kunang-kunang. Aku tak sempat menulis karena tak mungkin aku membiarkan asap rokok berputar-putar saja dalam ruangan.