Cericau @nengtatix & @respatiaffandi

Cericau @nengtatix & @respatiaffandi

Semarang, Aku dan Kamu

Share

Cerita ini kumulai dari Semarang. Mestinya aku menulis catatan ini di sana pula sambil menikmati kotamu di ketinggian hotel yang telah kamu pesankan untukku. Sebelum tidur malam, aku sempat melihat dari balik kaca yang tak bisa terbuka: rumah-rumah penduduk terlihat warna-warni seperti taburan permen dan menyala bak kunang-kunang. Aku tak sempat menulis karena tak mungkin aku membiarkan asap rokok berputar-putar saja dalam ruangan.

Siang itu kamu sudah menunggu keretaku dari Pemalang di Stasiun Poncol Semarang. Telepon berdering begitu saja dan sengaja aku tak mengangkatnya. Itu dari kamu pasti. Aku melihat seorang perempuan berkerudung berkaus orange mondar-mandir sambil meletakkan hanpone di telinga. Aku mendekatinya dan tangan ini pun tak tahan untuk menepuk punggungnya. Dia membalikkan badan sambil tersenyum lalu menjabat tanganku. Kamu.

“Senang sekali akhirnya jumpa denganmu,” katamu.

Aku mengikuti langkah kecilmu ke tempat parkir sepeda motor. Telah kamu sediakan satu helm lagi untukku. Kamu mengajakku ke rumah tinggal kakek-nenekmu. Aku pernah mendengar ceritamu bahwa selama mendapat tugas liputan di Semarang kamu tinggal di sana, juga karena kantor kamu lebih dekat dari rumah ini ketimbang rumahmu sendiri di Semarang bagian atas. Dari stasiun pun jaraknya sangat dekat.

Semarang sangat panas. Kamu membalas gerahku dengan segelas es sirup rasa jeruk. Asam sekali rasanya, atau memang rasa manis itu telah terserap di setiap lekuk wajahmu saat tersenyum? Tak berapa lama Kakek dan Nenek keluar menyambutku, bertegur-sapa layaknya baru bertemu dan masuk lagi ke dalam sembari meninggalkan keluhan: semarang memang panas, Nak!

***
Jalanan kota di Semarang luas dan bersih, begitulah kesan pertamaku pada kotamu. Pohon-pohon besar dengan daunnya yang lebat berjejer membatasi trotoar dan jalan raya. Aku melihat kendaran maupun pejalanan kaki serasa santai menempuh jarak: sungguh keadaan yang tak mungkin dinikmati warga Jakarta.

Perjumpaanku dengan Semarang memang telah terjadi sejak aku kecil. Itu pun hanya melintas saja ketika aku dan keluarga pergi ke Jawa Timur atau dengan teman ke Yogya melewati Weleri. Gedung-gedung perkantoran sepajang jalan di Semarang bagiku masih sangat muda. Ketinggiannya seolah-olah ingin menunjukkan keangkuhan seperti bangunan di Jakarta, sayang, itu tak sempat membuatku gentar.

Sudah kukatakan padamu bahwa Semarang tengah mencari jatidirinya sebagai kota besar layaknya ibu kota provinsi lainnya. Permasalahan kemacetan dan urbanisasi akan bisa diatasi jika pengendalian kendaraan serta data kependudukan rapi. Bandung dan Surabaya adalah bukti nyata dari kekawatiran ini. Angkutan umum seperti Transjakarta mesti diperhatikan, setidaknya membutuhkan kehati-hatian dalam menentukan jalur bus yang memakan ruas jalan raya.

Kamu terus bercericau sepanjang jalan mengenalkan Semarang padaku. Tanganmu melingkar di pinggangku, menghilangkan kegugupanku mengendarai sepeda motormu yang rem depannya rusak. Aku sudah ingatkan, ini sangat berbahaya bagi keselamatan berkendaramu, tapi kamu hanya tertawa terbahak-bahak menanggapi kekhawatiranku. Roda pun terus berputar menyusuri pusat pemerintahan dan pendidikan, terus melaju ke ketinggian.

Semarang memiliki keunikan dari segi geografis: laut dengan perbukitan jaraknya tak begitu jauh sehingga membuat cuaca kotamu panas. Sudah semestinya kotamu makmur baik di sektor kelautan maupun pertanian, apalagi ditunjang sumber daya manusia cetakan kampus-kampus ternama di Semarang.

“Hey, belok kiri,” ucapmu mengingatkanku yang sempat terpana menikmati kebersihan Semarang.

Ya, perjalanan menuju hotel akhirnya sampai. Kamu menguruskan semua administrasi pada resepsionis. “No smoking. Lantai delapan,” katamu sambil menggandeng tanganku menuju kamar. Aku tak mengira ternyata kamu memenuhi permintaanku untuk mendapatkan sebuah kamar tak berpendingin. Aku bisa merokok tentu. Padahl dari awal aku ingin menuruti keinginanku untuk tidak merokok. Hmmm...

0 komentar:

Posting Komentar